Advertise Here

Jumat, 19 September 2014

MAKNA PELUKAN AYAH BUAT BUAH HATINYA

MAKNA PELUKAN AYAH BUAT BUAH HATINYA


Jika ingin melihat profil seorang ayah, maka lihatlah Nabi Ibrahim as. Ibrahim bisa dan mampu menjadi seorang ayah yang baikserta menyengangkan bagi putranya Ismail as. Jika ingin melihat profil keluarga bahagia, penuh dengan cinta, maka lihatlah keluarga Nabi Muhammad SAW. Beliau SAW mampu menjadi ayah yang baik dan menyenangkan bagi putrinya, Nabi SAW jiga bisa dan mampu menjadi ayah yang baik, bijaksana, bagi putri-putrinya yang cantik nan menawaan. Nabi SAW sangat dekat dengan mereka, sampai urusan nikah-pun, Nabi SAW tidak memaksa Fatimah ra. Semua putra-putri Nabi SAW betah dirumah, karena sang Ayah benar-benar menjadi teman, ayah, bahkan bisa memberikan solusi terbaik ketika putra-putrinya menghadapi masalah.

Sebagai utusan Allah SAW memang sempurna, di sisi lain sebagai manusia biasa, Nabi SAW bisa melakukan dengan baik, sekaligus contoh nyata. Pewaris para Nabi, yaitu para ulama juga memiliki sifat-sifat yang dimiliki para itusan Allah SWT.Tidaklah berlebihan jika Nabi SAW mengatakan:”ulama itu pewaris para Nabi”. Sangatlah wajar jika kemudian anak-anak para ulama itu menjadi ilmuan, pemimpin, serta menjadi orang yang bernamfaat bagi orang banyak.

 Ulama itu memang di desain hidup setelah Nabi SAW yang fungsinya sama persis dengan para Nabi SAW. Mengajak berbuat baik, mencegah kemungkaran, dengan tutur kata yang indah dan menyenangkan, memakai argumentasi yang kuat, ditambah lagi dengan ahlak dan budi pekerti yang mulia. Tidak pantas dikatakan ulama, jika masih suka membuat provokasi, menfitnah dengan keji, mengkafirkan, menyesatkan sesama muslim yang beribadah. Walaupun jidatnya hitam, jubhanya panjang, jengotnya juga panjang, tetapi jika masih suka mengotori lidahnya dnegan kata-kata tidak pantas, itu belum dikatakan ulama’. Ciri khas ulama itu memilik rasa “khosyah” takut kepada Allah SWT.

Ungkapan cinta Nabi Ibrahim keluar melalui panggilan yang menyenangkan “ya Bunayya” yang artinya “anakku sayang”. Begitu juga Nabi Ya’kub ketika memanggil putranya “Yusuf” juga menggunakan panggilan sayang “ya Bunayya”. Begittu juga dengan keluarga Lukman Hakim, panggilan “ya Bunayya” menjadi sebuah tanda cinta kasih dari seorang ayah kepada putra-putrinya. Begitu juga dengan seorang anak tatkala memanggil sang ayah dengan menggunakan “ya Abati” yang artinya” ayahandaku sayang”.  Begitu santun, sopan dan mesra hubungan antara orangtua dan anak, sehingga melahirkan kasih sayang yang mendalam.

Tidak hanya ungkapan cinta melalui panggilan “sayang”, ternyata kasih sayang orangtua itu bisa menggunakan pelukan, belaian, serta bercanda dengan bahasa yang menyenangkan.  Jika itu bisa dilakukan dengan baik, dari hati yang paling dalam, maka semua itu akan melahirkan kasih sayang, serta segudang manfaat, bahkan akan melahirkan miracle (keajaiban) yang sangat mengesankan. Itu juga akan melahirkan pertumbuan fisik dengan baik, sekaligus pertumbuhan ruhani dan spiritual yang mapan bagi anak.

Tidak satu-pun anak yang terlahir, kecuali membutuhkan kasih sayang, pelukan hangat dari kedua orangtua. Pujian, sanjungan itu sangat penting, tetapi jika sanjungan dan pujian itu kemudian diungkapan kepada seorang anak, kemudian dipeluk dengan cinta dan sayang. Betapa senang dan bahagia seorang anak. Sebaliknya, jika anak sering mendapatkan kekerasan, bentakan, bagkan jarang mendapatkan pelukan hangat dari kedua orangtua, maka pertumbuhan fisiknya akan terganggu, begitu juga dengan mental, intelektual serta spritualnya.

Sebagian orang bilang, bahwa pelukan yang menjejukkan hati itu hanya dari seorang Ibunda. Memang itu benar, tetapi bukan berarti pelukan dan kasih sayang seorang ayah tidak memberikan dampak yang positif. Justru kisah-kisah di dalam Al-Quran itu ternyata mengisahkan antara Anak dan orang tua, seperti ; Nabi Ibrahim dan Ismial, Nabi Ya’kub dan Yusuf, Lukam Hakim dan putranya. Konon, pelukan hangat seorang ayah itu berperan penting bagi karakter dan psikologis anak-anaknya.

Sangat meyedihkan jika seorang ayah itu kasar, tidak sopan, dan jarang bertemu dengan putra-putrinya karena alasan bekerja mencari duit. Orang sibuk mencari duit dengan alasan untuk putra-putrinya. Ketahuilah, suatu saat orang tua akan menyesal (getun), akan menghabiskan duitnya demi bisa bertemu dan bercanda dan menyeangkan putra-putrinya. Bekerja boleh, tetapi jangan sampai durasi pertemuan dengan buah hatinya sangat singkat, bahkan sang putra jarang mendapatkan pelukan hangat dari seorang ayah.

Dalam sebuah buku karya Melly Puspita Sari yang berjudul “The Miracle of Hug” mengatakan bahwa pelukan seorang Ayah dapat menjadi media untuk mentransfer kemandirian dan keberanian ke anak  berinteraksi dengan figur otoritas di luar rumah. Anak yang sering mendapat pelukan ayah cenderung menjadi anak mandiri, tidak penakut, dan lebih kuat dalam berinteraksi dalam kehidupan sosialnya.

Lebih lanjut lagi, Melly menceritakan dalam bukunya “saat Ayah memeluk, sesungguhnya ia sedang mentransfer kemampuan dan kemandirian pada diri anak. Selain itu aspek yang sifatnya berani berinteraksi dengan figur otoritas yang dimiliki ayah”.

Tidaklah berlebihan jika realitas dilapangan, cukup banyak anak perempuanlebih dekat dengan Ayahnya kadang tumbuh sebagai pribadi yang kuat dan tangguh. Tidak gampang menyerah di dalam menghadapi masalah. Pelukan seorang ayah ketiak masih kecil, bahkan ketiak saat pertumbuhan memberikan penggaruh positif kepada pertumbuhan seorang anak perempuan.

Karena dasar itulah, kadang seroang wanita kadang mencari pasangan hidup yang tangguh, kuat, sopan agamis, karena yang dilihat adalah orangtua laki-laki. Sang perempuan berharap memiliki suami yang bisa meberikan perlinudngan, kenyamanan, serta memberikan teladan, bahkan bisa menuntun hidupnya lebih baik. Tentu saja bisa menuntuk pada kebagiaan dunia dan ahirat.

Lihat saja Rosulullah SAW, putrinya yang bernama Fatimah begtitu akrab, dekat dengannya. Setiap saat dan waktu, Fatimah al-Zahra sering mengunjungi Rosulullah SAW, walaupun Fatimah sudah menikah. Begitu juga dengan Nabi SAW sangat menyangi putrinya Fatimah ra. Sampai-sampai, ketika hendak menikah Nabi SAW mengajak diskusi seputar calon suaminya. Nabi SAW tidak pernah menyakiti hatinya, bahkan Nabi SAW pernah mengatakan:” siapa yang menyakiti Fatimah sama dengan menyakiti diriku”.

Wahai kaum laki-laki (Ayahanda), jangan biarkan putra-putri kalian lebih dekat dengan orang lain. Gunakan waktu sebanyak mungkin berjumpa, berdiskusi dengan putra-putri kalian, walaupun itu sangat singkat. Buatlah waktu yang singkat itu menjadi benar-benar berkualitas bagi anak-anak. Jangan sampai seorang anak itu bangga dengan dengan figure pria selain ayahnya. Jangan sampai anak itu lebih bahagia ketika berada diluar rumah, dan jangan sampai seorang anak itu lebih betah diluar rumah, karena rumah tidak menyenangkan. Ciptakan rumah itu menyenangkan dan selalu di rindukan oleh putra-putri kalian. Seorang Ibu akan menjadi sempurna jika Dia mampu menciptakan hubungan anak, ayah, dan ibu indah, menyenangkan, menciptakan surga di bumi ini (www.wisatahaji.com)